?

Log in

 
 
18 October 2013 @ 11:16 am
Nari Mataya Lokatara  
Pada 5 Oktober 2013 lalu, Komunitas Tari FISIP UI (KTF UI) Radha Sarisha menyelenggarakan pagelaran tari pertamanya secara resmi di Balairung Sapta Pesona, Jl. Medan Merdeka Barat no.17, Jakarta Pusat. Pagelaran ini disebut pertama, karena pada tahun-tahun sebelumnya KTF UI melakukan misi budaya ke berbagai negara di Asia dan Eropa. Tema pagelaran tahun ini adalah "Wiraga, Wirama, Wirasa" yang merupakan tiga unsur utama dalam menari. Sementara itu, judul pagelaran "Nari Mataya Lokatara" memiliki arti "Wanita yang Menari dengan Luar Biasa" dalam bahasa Sanskerta.

Tari Lenggang Maye Nari Mataya Lokatara dimulai dengan tarian Lenggang Maye yang merupakan ucapan selamat datang bagi tamu penting dalam pesta adat di tanah Melayu. Kemudian, seorang kakek muncul dan bersiap-siap mendongengkan sebuah kisah menarik tentang seorang penari wanita. Tarian Jawa yang ditampilkan selanjutnya menggambarkan keceriaan dan kecantikan para gadis Jawa. Gadis-gadis penari itu merupakan teman-teman Nari, seorang wanita yang berasal dari keluarga penari. Meskipun memiliki nama seperti itu, Nari ternyata tak mahir menari seperti keluarga dan teman-temannya. Tarian Topeng Nindak pun tampil untuk menceritakan keinginan Nari belajar menari. Nari dinilai gagal oleh keluarganya, dan hal ini membuatnya risau. Untuk menjadi seorang penari yang handal, Nari harus bisa menguasai 3 unsur tari, yaitu wiraga, wirama, dan wirasa.

Tari Hip-HopSuatu hari, Nari didatangi seorang nenek-nenek saat sedang menyendiri. Nenek itu memberikannya sebuah buku ajaib yang membuat Nari masuk ke dalamnya. Ketika masuk ke dalam buku itu, Nari dihadapkan oleh berbagai tarian yang harus ia pelajari dan kuasai. Hal ini sempat membuatnya gentar, terlebih karena Nari kurang diterima di lingkungan barunya. Tarian Hip-Hop yang kental dengan penampilan 'jalanan' yang khas pun digunakan untuk menggambarkan hal ini.

Kesedihan tak berlangsung lama. Dalam perjalanannya, Nari bertemu dengan seorang lelaki yang memberinya sebuah gelang ajaib. Apabila Nari mengenakannya dan menggoyangkan gelang itu, maka seketika itu pula lelaki tadi datang dan siap membantunya kapanpun Nari berada dalam kesulitan.

Tari Kalimantan yang dibawakan selanjutnya membuat penonton seolah berada di Kalimantan. Tari ini menunjukkan sikap mandiri dan gigih dari wanita Dayak. Terlebih lagi, wanita Dayak dikenal sebagai wanita-wanita pekerja keras. Hal ini seolah menceritakan tekad kuat Nari untuk mempelajari berbagai tarian sehingga dapat diterima keluarganya.

tari kontemporerSelain tarian modern dan tradisional, dalam pagelaran ini pun ditampilkan tarian kontemporer yang ditarikan oleh sepasang lelaki dan perempuan. Aksi lain dari divisi modern dance KTF UI selanjutnya adalah tari Sexy, yang dibawakan oleh wanita-wanita berpakaian sesuai judul tarian. Para pemusik pun memiliki waktu khusus untuk mendapatkan spotlight dengan membawakan lagu Kicir-kicir. Suasana Betawi semakin kental dengan penampilan tari Zapin yang bercerita tentang kisah cinta seorang gadis cantik asli Betawi dengan pemuda tampan keturunan Arab. Setelah berhasil melewati beberapa tarian tersebut, Nari pun telah lolos menjadi penari handal.

Nari Mataya Lokatara jelas bukanlah sebuah pagelaran tari biasa. Tari tradisional, tari modern, dan pemusik dijadikan sebuah rangkaian cerita yang saling melengkapi. Meskipun para penari berasal dari kalangan mahasiswa, pengalaman mereka sebagai pembawa misi budaya menjadikan pagelaran tari ini dibawakan dengan begitu profesional. Antsusiasme penonton pun menjadikan jalannya pagelaran lebih mendukung dan kondusif. Beberapa penonton bahkan mengaku tidak bisa move on dari pagelaran Nari Mataya Lokatara ini dan tak sabar untuk menyaksikan pagelaran KTF UI Radha Sarisha selanjutnya.